Senin, 17 Agustus 2026

Dosa Sejarah Rasisme yang Belum Usai




Rasisme bukan hanya terjadi di Indonesia, namun di berbagai belahan dunia juga terjadi. Identitas rasial sering kali muncul dari pandangan sosial, baik secara individu maupun kelompok, dengan mengategorikan fisik yang terlihat dari luar seperti warna kulit, bentuk wajah, nada bicara, bahkan budaya yang terkait dengan identitas rasial.

Kita sering beranggapan bahwa rasisme adalah fosil masa lalu, sesuatu yang terkubur bersama berakhirnya era perbudakan atau runtuhnya kolonialisme. Namun, benarkah ia telah tiada? Atau kita hanya terlalu naif untuk menyadari bahwa rasisme tidak pernah benar-benar mati, melainkan sekadar berganti pakaian dan bersembunyi di balik kebiasaan sehari-hari yang kita anggap wajar?

Sejarah mencatat bagaimana konsep ras diciptakan bukan sekadar untuk mengelompokkan manusia, melainkan untuk melanggengkan kekuasaan dan eksploitasi. Ratusan tahun berlalu, sistem itu memang telah runtuh secara formal. Namun, warisannya, berupa hierarki sosial dan ketimpangan cara pandang, masih menyisakan luka mendalam yang terus kita reproduksi tanpa sadar.

Wajah Rasisme Modern: Ketika Prasangka Dianggap Normal

Di era hari ini, rasisme jarang muncul dalam bentuk rantai perbudakan atau pemisahan ras secara ekstrem. Ia bersembunyi dengan jauh lebih halus di balik rutinitas harian yang sering kali kita toleransi.

Bentuk yang paling sering ditemui adalah colorism atau standardisasi fisik. Pandangan bahwa kulit yang lebih terang dianggap lebih bersih, lebih menawan, atau lebih 'berkelas' adalah sisa-sisa mentalitas kolonial yang belum sepenuhnya hilang dari alam bawah sadar kita. Tanpa sadar, penilaian estetika ini membentuk hierarki sosial terselubung di tengah masyarakat.

Selain itu, prasangka rasial sering kali dibungkus dalam bentuk mikroagresi dan humor. Lelucon berbasis suku, aksen bicara, atau ciri fisik tertentu sering kali dibela dengan dalih "cuma bercanda". Padahal, ketika sebuah lelucon terus-menerus menyudutkan identitas kelompok tertentu, ia sedang melanggengkan stereotip dan merendahkan martabat kemanusiaan secara bertahap.

Meruntuhkan Warisan Superioritas

Rasisme pada akhirnya bukan sekadar isu global, melainkan masalah empati dan cara kita memandang sesama. Mengaku tidak rasis saja tidak cukup jika kita masih diam saat melihat stigma dan pembedaan perlakuan atas dasar identitas ras atau etnis terjadi di depan mata.

Memutus rantai dosa sejarah ini dimulai dari keberanian untuk mengevaluasi bias pribadi. Kita perlu mulai menolak lelucon yang merendahkan, berhenti mengotakkan kualitas seseorang berdasarkan asal-usulnya, dan menyadari bahwa keberagaman fisik serta budaya bukanlah alat untuk menentukan siapa yang lebih unggul, melainkan bukti kekayaan identitas manusia.

Sentimen Kedaerahan di Era Digital: Stigma "Lapar Minta Makan, Kenyang Minta Pisah"

Dosa sejarah rasisme dan prasangka ini tidak hanya terjadi di panggung dunia, tetapi juga membayang-bayang dalam narasi antarsuku di negeri sendiri. Di media sosial seperti TikTok, kita kerap menemui komentar-komentar yang menyudutkan daerah tertentu dengan nada generalisasi yang sinis. Salah satu contoh yang paling sering muncul adalah stigma terhadap masyarakat Aceh melalui celetukan "lapar minta makan, kenyang minta pisah".

Ungkapan seperti ini bukan sekadar kalimat iseng di kolom komentar. Ia adalah bentuk penyederhanaan sejarah yang dangkal dan menyakitkan, seolah-olah mengerdilkan seluruh dinamika sejarah, perjuangan, serta penderitaan suatu daerah menjadi sekadar narasi "tidak tahu terima kasih". Ketika prasangka semacam ini diamini dan diproduksi berulang kali demi meraih likes atau sekadar ikut-ikutan tren, kita sedang merawat benih alienasi dan kebencian antarsesama warga bangsa.

Daftar Pustaka / Referensi:

  • Sue, D. W. (2010). Microaggressions in Everyday Life: Race, Gender, and Sexual Orientation. John Wiley & Sons. (Untuk rujukan konsep mikroagresi dan bias terselubung).

  • Fanon, F. (1952). Black Skin, White Masks. Grove Press. (Untuk rujukan analisis dampak psikologis kolonialisme dan standar fisik/colorism).

  • Loomba, A. (2015). Colonialism/Postcolonialism. Routledge. (Untuk rujukan konstruksi sejarah ras dan hierarki sosial).

  • Studi Dokumen Sejarah & Konflik Aceh (1989–2005). (Untuk latar belakang konteks dinamika sosio-politik dan konstruksi sentimen kedaerahan).

  • Amatan Media Sosial (TikTok & X/Twitter, 2024–2026). (Sebagai rujukan data fenomena discourse/komentar warganet mengenai stigma antarsuku).

Dosa Sejarah Rasisme yang Belum Usai

Rasisme bukan hanya terjadi di Indonesia, namun di berbagai belahan dunia juga terjadi. Identitas rasial sering kali muncul dari pandangan s...